News Update :

Politik

Kenyataan

Agama

Dunia

Letih Berjuang Dalam Islam?

May 27, 2016



[Pindaan Akta 355]

Sungguh...
Perjuangan menegakkan syariat Allah..
Pasti berliku..
Pasti menemui ranjau..
Pasti lama dan sukar yang menanti..
Pasti penat dah lelah menjadi ramuan..
Pasti musuh membenci..
Pasti munafik menunjukan seri..
Pasti yang enggang mula berdrama..
Pasti yang ingkar mula berdalih..

Namun perjuangan ini...
Pasti menemui sinarNya..
Pasti sampai di destinasiNya..
Pasti akan membenarkan kalamNya..
Pasti merobek musuhNya..
Pasti menghancurkan seterunya..
Pasti melondehkan kemunafikannya..

Kedaulatan Islam Costantinople ratusan tahun untuk di benarkan KalamNya.

Apalah sangat usia perjuangan ini jika rasa putus asa..
Jika rasa letih..
Jika rasa susah..
Jika rasa payah..

Apatah lagi jika benci..
Apatah lagi jika keji..
Apatah lagi jika meremeh..
Apatah lagi jika perlekeh..
Apatah lagi jika beralasan..
Apatah lagi menyindir..

Semoga sinar ini pasti kelihatan walau bukan di usia kita.
Semoga kemenangan ini semakin hampir.
Sebagai simbol kemenangan umat Islam.

Terus Istiqamah bersama panjinya.

Alhamdulillah.
Allahu akbar.

INDAHNYA PERBEDAAN PENDAPAT PADA MASA DAHULU

May 25, 2016



INDAHNYA PERBEDAAN PENDAPAT PADA MASA DAHULU

....Beginilah 4 Imam (yang berlainan Madzhab) Ketika Berada Dalam Satu Waktu Sholat di Masjidil Harom....

Gambar Ka'bah di tahun 1320 H (sekitar tahun 1903 M), masih terlihat disekitar ka'bah terdapat pondokan-pondokan kecil. Disitulah maqom (kedudukan) yang disediakan bagi para imam madzhab masing-masing berdiri mengetuai sholat jama'ah di kalangan pengikutnya.

Dahulu, sholat berjama'ah di Masjidil Harom bukannya berimam pada satu imam seperti sekarang ini, melainkan sebanyak 4 imam berlainan madzhab. Setiap orang akan sholat mengikuti imam sesuai dengan pegangan (madzhab) fiqih masing-masing.

Adalah seorang pengembara terkenal dunia Islam, yaitu Abu 'Abdillah Muhammad ibn Bathuthoh (1304 - 1368 M) atau yang lebih dikenal dengan nama "Ibnu Batutah" dalam catatannya Rihlah Ibnu Batutah (Perjalanan Ibnu Batutah) pernah berkunjung ke kota Makkah al-Mukarromah dan menunaikan ibadah haji.

Ibnu Batutah menceritakan bahwa orang Islam pada masa itu sholat berjama'ah di Masjidil Harom berimamkan sebanyak 4 imam berlainan madzhab dalam setiap waktu sholat. Artinya, dalam setiap waktu sholat, akan ada 4 imam dengan kelompok madzhab masing-masing bersholat mengikuti imam dan pegangan madzhab fiqih masing-masing.

Yang dimaksud 4 imam dari 4 madzhab ini, tidak lain dan tidak bukan adalah madzhab Hanafi, Hanbali, Maliki dan Syafi'i.

Dalam catatannya, Ibnu Batutah menceritakan bahwa kelompok bermadzhab Syafi'i diberi kehormatan terlebih dahulu untuk memulai sholat jama'ah selepas adzan berkumandang, setelahnya madzhab Maliki, Hanbali dan Hanafi secara bergilir.

Bahkan kedudukan tempat (maqom) imam dan pengikut madzhab masing-masing berdiri ketika waktu sholat juga dinyatakan oleh Ibnu Batutah :

1). Madzhab Syafi'i :

Terletak di lingkaran antara Rukun Yamani dan Rukun Iraqi, berdekatan dengan sumur Zam-Zam. Imam madzhab Syafi'i berdiri dihadapan Maqom Ibrohim.

2). Madzhab Maliki :

Terletak di lingkaran antara Rukun Yamani dan Rukun Syami.

3). Madzhab Hanbali :

Terletak di lingkaran antara Rukun Yamani dan sudut dinding Ka'bah dimana terdapatnya Hajar Aswad.

4). Madzhab Hanafi :

Terletak di antara lingkaran antara Rukun Iraqi dan Rukun Syami berhadapan dengan Hijir Ismail dan saluran Mizab (pancuran/talang emas).

Maqom Imam Madzhab Empat ini bukanlah kuburan dan bukan pula batu tempat berpijak sebagaimana Maqom Ibrohim, akan tetapi berupa pondok-pondok tempat para imam madzhab berdiri mengetuai sholat jama'ah di kalangan pengikutnya.
Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai dengan zaman Kesultanan Turki Utsmaniah dan Kerajaan Hijaz, namun setelah kota Makkah dikuasai oleh Arab Saudi dan keturunan Dinasti Sa'ud, maka pondok-pondok tersebut diruntuhkan dan semua jama'ah di Masjidil Harom menunaikan sholat jama'ah dengan satu imam tanpa mengenal madzhab.

HIKMAH dan MUHASABAH:

Sekarang, walaupun umat Islam sholat di Masjidil Harom dibawah seorang imam, memang pada dzohirnya nampak bersatu, namun pada hakikatnya hati mereka telah berpecah belah dengan saling menyalahkan antar sesama umat.

Silahkan kita lihat sendiri, golongan yang selama ini mudah mengucapkan kata "kafir", "sesat", "bid'ah" kepada saudaranya sesama Muslim hanya karena berbeda pendapat dengannya. Padahal perbedaan itu hanyalah bersifat furu'iyah.
Mungkin persoalan pertama yang muncul di pikiran kita ketika mengetahui cerita ini adalah :

1) Apakah seluruh umat Islam pada masa dahulu terlalu taksub (fanatik buta) terhadap madzhab masing-masing, sehingga mereka tidak mau berimamkan pada imam yang tidak semadzhab dengannya?

Justru itu, karena mereka tidak bersikap taksub dan fanatik dengan madzhab masing-masing, maka perkara tersebut terjadi.

Hal ini jelas, karena setiap madzhab tidak saling menyalahkan, tidak terjadi gesekan, mereka saling hormat menghormati pendapat pihak lain selama berdasarkan pada ijtihad yang diterima, dan mereka juga tidak memaksakan dan menunjukkan kelebihan madzhab mereka kepada orang lain.

Bagaimana seseorang itu bisa dikatakan taksub terhadap madzhabnya, sedangkan keempat imam madzhab semuanya saling berkaitan antara satu dengan yang lain?

Imam Hanbali pernah belajar dengan Imam Syafi'i, sedangkan Imam Syafii juga pernah belajar dengan Imam Malik di Madinah serta menghafal kitab al-Muwaththo' karangan Imam Malik, dan Imam Malik juga pernah belajar dengan Imam Abu Hanifah.

Dari sudut sejarah, keempat imam dan pengikutnya didapati senantiasa mengamalkan toleransi yang tinggi, hormat menghormati, bahkan tidak ada masalah apapun yang terjadi di antara pengikut madzhab-madzhab empat tersebut yang menyebabkan runtuhnya perpaduan ummah.

Sehingga atas dasar adab dan tasamuh (toleransi) yang tinggi serta pembuktian bahwa perbedaan pendapat dalam islam merupakan sebuah rahmat, maka setiap madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah diberi ruang untuk beribadah dalam Masjidil Harom mengikut pandangan dan pegangan madzhab masing-masing.

Sungguh, keberadaan sholat 4 Imam dengan jama'ah masing-masing tersebut mencerminkan sikap toleransi yang tinggi antar sesama umat, namun malangnya segelintir pihak telah membuat tanggapan yang salah bahwa fenomena tersebut dianggap sebagai tanda perpecahan ummat.

2) Apakah benar demikian, pada saat itu umat Islam menjadi berpecah-belah?

Jawabannya justru malah sebaliknya, sejarah telah membuktikan bahwa kala itu umat Islam adalah umat yang bersatu dan kuat sehingga menguasai dunia.

Justru kekuatan umat Islam itu ada pada kemajemukan dan perbedaan pendapat yang dihadapi dengan sikap tasamuh yang tinggi serta saling hormat-menghormati. Disitulah kunci perpaduan umat yang sejati.

Kisah tentang adanya Maqom Imam Empat Madzhab di Masjidil Harom ini, hanyalah satu bukti yang menunjukkan betapa Islam amat menghormati perbedaan pendapat di kalangan umatnya dalam perkara-perkara furu’ atau khilafiyyah.

Kita juga harus sadar dan faham, bahwa adanya madzhab–madzhab seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali serta perbedaan pendapat di kalangan mereka bukanlah bermaksud PERPECAHAN dalam Islam.

Sesungguhnya madzhab merupakan satu cabang pemikiran dan pendapat ulama-ulama muktabar yang tersusun secara sistematik. Ulama madzhab yang Empat tersebut telah berhasil membawa agama Islam beserta umatnya ke arah penyusunan gaya pemikiran Islam yang maju dan sistematis selepas era Rosululloh SAW dan para sahabat rodhiyAllohu 'anhum.

Para ulama dari masa lampau hingga kini terus mengadakan ijtihad dalam pelbagai perkara dan masalah yang terjadi. Perbedaan pendapat muncul karena penafsiran para alim ulama terhadap suatu ayat al-Quran dan hadist tidak seragam namun sama-sama mempunyai hujjah yang kukuh. Mereka hanya berselisih faham dalam masalah fiqih, namun pegangan tauhid dan aqidah tetap sama, yakni sama-sama Aqidah Asy'ariyyah - Ahlussunnah wal Jama'ah.

"Kerja Petronas hidup senang,"



"Kerja Petronas hidup senang,"

Ramai yang kata begitu. Aku juga pernah fikir begitu. Pernah juga mohon kerja di situ tapi kelayakan akademik tiada Hons. jadi permohonan ditolak.

Sejak dahulu bila ada kawan masuk Petronas, kami yang tak dapat ni, jadi bangga. "Aku ada kawan kerja Petronaaaasss..."

Automatik bila Petronas umum bonus berbulan-bulan, setahun...kami yang kerja gomen ni terkebil-kebil aja tengok.

Nak tunggu PM umum bonus sebulan pun dah kira bertuah amatlah tu.

Belum kira lagi kawan-kawan kerja private yang tak dapat bonus, potong gaji...

Tapi selepas 10 tahun tinggalkan alam universiti, aku dah faham tentang realiti hidup.

Hidup di Petronas tidaklah semudah disangka.

Sasaran KPI yang gila (kalau kau capai stretch itu tandanya kau dewa) , disiplin kerja yang ketat dan berdepan persepsi masyarakat (ada yang panggil mereka anjing kerajaan sebab Petronas penyumbang dana utama negara).

Tapi yang orang tak tahu adalah tentang kepayahan mereka. The struggle to survive.

Walaupun Petronas nampak besar di Malaysia, tapi di mata dunia, ia taklah besar mana.

Dalam temubual BFM dengan CEO PetChem pada Isnin lepas pun, Datuk Sazali Hamzah kata kekuatan PetChem adalah pada klien-klien yang kecil-kecil, yang syarikat besar-besar tak mahu.

As a company, Petronas is wearing multiple hats. As government owned-body, as corporate institution, as international player, as caretaker of life of 30 million people, just to describe a few.

Staf Petronas, dari atas ke bawah, termsuklah segala anak syarikatnya - merekalah yang menggalang tanggubg jawab ini.

Tak ramai yang dengar kisah mereka bila dihantar jauh ke tengah padang pasir untuk oil exploration.

Bukannya sedikit bilangan mereka yang terpaksa hidup dalam zon konflik, zon perang - yang mereka pun tak tahu esok pagi mereka akan masih bernyawa atau tidak.

Dan berapa ramai yang sanggup pegang telefon 24 jam, angkut laptop ke sana sini sebab panggilan tugas yang tak kira masa.

Ya, gaji mereka besar. Tapi itulah nilaian pada pengorbanan mereka.

Entahlah kau orang nak fikir apa, tapi bila tengok pakcik aku hidup berjauhan dari keluarga, tengok kawan aku yang sampai kena cari dengan kongsi gelap sebab buka market Petronas di kawasan dia...

Aku hargai kerja mereka.

Sekian.

Ali Imran
Inspirasi dari abang baju Petronas seluar berjahit dalam KLIA Transit

#YesVocket

Kebenaran dan Majoriti dalam Islam: Antara Pegangan dan Amalan

May 22, 2016



Kebenaran dan Majoriti dalam Islam: Antara Pegangan dan Amalan

1. Ada setengah pihak mendakwa, 'kebenaran tidak selamanya berada bersama majoriti’. Maka timbul persoalan, adakah ungkapan tersebut benar atau sebaliknya? Apakah ia berbentuk umum atau pun khusus? Bagi membahaskannya, perlu kita pastikan dahulu had batas perbincangannya. Jika ia berkaitan khusus dengan umat Islam sahaja, maka tidak perlu kita membawa dalil-dalil umum yang mencakupi golongan kafir musyrik seperti ayat al-Quran:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
Maksudnya: “Jika engkau (Muhammad) taat kepada majoriti yang berada di dunia, maka mereka akan sesatkan engkau dari jalan Allah” [Al-An'am: 116]. Ayat ini berkaitan masyarakat di zaman Nabi SAW yang majoriti adalah kafir musyrik. Bukan sahaja di zaman Nabi SAW, bahkan di zaman sekarang ini pun umat Islam dengan segala macam ragamnya pun masih bukan majoriti (hanya 23% penduduk dunia). Maka, ayat tersebut tiada kaitan dengan perbincangan ini.

2. Apakah maksud majoriti dalam ungkapan berkenaan, majoriti umat Islam atau majoriti ulama Islam? Perlu juga dipastikan, adakah ia merujuk kepada soal usul dan pegangan atau soal furu’ dan amalan? Jika soal furu’ dan amalan, perbahasannya agak panjang kerana skop cakupannya yang amat luas dan boleh jadi ungkapan tersebut ada benarnya. Namun jika soal usul & pegangan, ungkapan tersebut tidak dapat diterima sama sekali kerana ia mengandungi tuduhan dan penghinaan kepada majoriti para ulama Islam. Seolah-olah mereka gagal dan tidak berjaya mempertahankan kebenaran yang dibawa oleh para sahabat RA dan para salafussoleh. Seolah-olah kebijaksanaan akal mereka secara kolektif dalam menjaga & menekuni ajaran Islam tidak tepat, tersasar & boleh dipertikaikan hingga mereka akhirnya tidak dapat dipercayai lagi. Anggapan ini tidak dapat diterima. ‘Membunuh karakter’ para ulama adalah jarum halus tipu daya syaitan dan musuh Islam.

3. Jika berlaku hilangnya kepercayaan umat kepada majoriti ulama ini, pasti ia suatu malapetaka yang mendukacitakan. Ini kerana al-Quran dan hadis kekal terjaga di atas usaha majoriti mereka. Jika hilangnya kepercayaan umat kepada mereka dan lebih mempercayai al-Quran dan hadis dengan segala tafsirannya yang ada pada kelompok minoriti, nescaya ia fenomena yang sangat berbahaya terhadap umat Islam apabila mereka percaya kelompok minoriti lebih menepati kebenaran berbanding majoriti. Golongan Syiah Rafidhah yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Golongan Musyabbihah & Mujassimah yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Golongan Muktazilah Moden yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Golongan Islam Liberal yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Golongan Khawarij Moden yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Dan golongan-golongan lain yang minoriti akan mendakwa kebenaran hanya bersama mereka. Demikian kerana dakwaan golongan majoriti ulama Islam tidak berjaya mempertahankan kebenaran yang dibawa oleh para sahabat RA dan para salafussoleh. Sifir sebegini merupakan sifir yang amat bahaya dan malang sekali. Maka, ungkapan 'kebenaran tidak selamanya berada bersama majoriti’ dari segi usul sangatlah bertentangan dengan realiti sejarah ulama Islam. Kefahaman begini pastinya boleh mengakibatkan keruntuhan & kekeliruan yang serius terhadap disiplin ilmu Islam yang sebenar.

4. Di dalam Islam, kebenaran ada bersama perkara-perkara yang telah disepakati oleh para ulama, salaf dan khalaf, mutaqaddimin dan mutaakhirin. Perkara-perkara yang telah disepakati ini adalah yang berpaksikan kpd al-Quran dan al-Sunnah. Termasuk juga ijmak ulama kerana jika tiada kesepakatan ulama pastinya tiada berlaku ijmak. Ini yang dimaksudkan sebagai usul dan pegangan. Perkara ini merupakan perkara yang telah dimaklumi oleh semua dan tiada ulama yg boleh memindanya walau siapa pun dia. Jika ada, maka dia telah menyalahi apa yang telah disepakati (ijmak) dan inilah yg amat dikhuatiri oleh Nabi SAW.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضي الله عنهما - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم -: " يَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ , فَاتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ، فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ". (رواه الحاكم والترمذي بلفظ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِى - أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ. وقَالَ: حَدِيثٌ غَرِيبٌ. والحديث حسن لغيره)
Daripada Ibn ‘Umar RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Tangan (pertolongan) Allah di atas al-jama‘ah (ulama Islam). Maka, ikutlah golongan yang terbesar (majoriti). Sesungguhnya sesiapa yang mengasing diri, dia mengasing diri ke neraka”. (HR al-Hakim dan at-Tirmizi dgn lafaz:

“Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpunkan umatku atau umat Muhammad SAW di atas kesesatan. Tangan (pertolongan) Allah bersama al-jama‘ah (ulama Islam). Dan sesiapa yang mengasing diri, dia mengasing diri ke neraka”. Hadis hasan li-ghairih).

5. al-Jama‘ah di dlm hadis2 Nabi SAW membawa bebrapa maksud menurut konteks hadisnya, antaranya bermaksud jemaah sembahyang, jemaah ulama dan jemaah umat Islam. Namun, al-Jama‘ah dalam hadis tadi ialah jemaah ulama Islam. Kata Imam at-Tirmizi selepas meriwayatkannya:

وَتَفْسِيرُ الْجَمَاعَةِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ هُمْ أَهْلُ الْفِقْهِ وَالْعِلْمِ وَالْحَدِيثِ.
"Tafsiran al-jama‘ah menurut ahli ilmu, mereka itu ialah ahli fiqh, ahli ilmu dan ahli hadis”.

6. Asas kebenaran di dalam Islam adalah jelas dan bukan sesuatu yang samar. Daripada an-Nu‘man bin Basyir RA berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Perkara yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Namun, antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhah (samar) yang tidak diketahui oleh ramai manusia. Maka, sesiapa yang menjauhi diri daripada perkara-perkara yang syubhah itu terpeliharalah agama dan kehormatannya. Manakala, sesiapa yang melakukan perkara-perkara yang syubhah, diibaratkan seperti seorang penggembala yang menggembala haiwan ternakan di tepi kawasan larangan dan berkemungkinan ia akan termasuk ke dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki kawasan larangannya yang tersendiri dan ketahuilah bahawa kawasan larangan Allah itu adalah perkara-perkara yang haram”. (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

7. Kesepakatan ulama terhadap perkara2 kebenaran yang jelas adalah sebahagian daripada keistimewaan dan 'kemaksuman’ umat ini, yang mana Nabi SAW akan berbangga dengan ramainya umat baginda di akhirat kelak. Malah, diriwayatkan bahawa umat baginda SAW akan mencakupi separuh (1/2) daripada penghuni syurga. Antara faktornya ialah kepercayaan mereka terhadap majoriti para ulama yang menjaga agama Islam dan patuh mengikuti ajaran mereka. Merekalah golongan yang sentiasa berada di atas kebenaran. Nabi sallallah alaih wasallam brsabda:
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم على ذلك.
Maksudnya: “Sentiasa ada satu kumpulan dari kalangan umatku yang sentiasa zahir di atas kebenaran yang mana orang yang menghina mereka tidak dapat memberi mudarat kepada mereka sehingga datangnya arahan Allah (hari kiamat), namun mereka tetap berkeadaan demikian” [Riwayat Muslim]. Golongan yang berada di atas kebenaran ini bukan akan muncul, tetapi telah pun sedia dan sentiasa ada sejak dari dahulu. Merekalah golongan ulama yang menjaga kesucian ilmu dan ajaran Islam. Bahkan, dalam setiap satu kurun akan ada tokoh-tokoh yang melakukan tajdid terhadap agama Islam dan harus mereka itu adalah tokoh-tokoh dlm bidang-bidang tertentu yang berasingan. Tokoh-tokoh ini biasanya adalah juga panutan bagi majoriti para ulama Islam yang lain. Justeru itulah tajdid mereka mendapat sambutan yang luas dan diterima dgn baik.

8. Begitu juga maksud hadis suruhan berpegang dengan al-Jamaah apabila umat terpecah menjadi 73 golongan dalam sabda Nabi SAW:
افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي.
Maksudnya: “Yahudi telah berpecah kepada 71 golongan, dan Nasrani berpecah kepada 72 golongan. Dan umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu”. Baginda ditanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Jawab baginda: “Siapa yang berada di atas jalanku dan jalan sahabatku” [Riwayat Abu Daud, al-Tirmizi dan Ibn Majah. Dalam riwayat lain menyebut: al-Jamaah]. Amat jelas disebutkan bahawa al-Jamaah ialah golongan yang mengikut jalan Nabi SAW dan jalan para sahabatnya. Golongan ini sentiasa ada di sepanjang zaman dan sejarah telah membuktikan kepada kita keberadaan mereka secara konsisten sebagai majoriti ulama Islam yang dikenal sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

9. Setelah zaman salafussoleh, jalan mereka terus berkembang secara lebih sistematik dengan kaedah2 & usul-usul yang teratur menggabungkan aspek naqli dan aqli secara seimbang. Ilmu akidah salafussoleh telah disusun atur dengan baik oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari dan Imam al-Maturidi. Ilmu fiqh salafussoleh telah dicerna dgn baik oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafii dan Imam Ahmad serta dikembangkan oleh pengikut (ashab) masing-masing. Ilmu tazkiyah salafussoleh telah dikemaskini oleh Imam Junaid al-Baghdadi dan lain-lain tokoh tazkiyah. Maka, orang yg mengikut mereka bererti telah mengikut usul & pegangan yg disepakati oleh majoriti ulama. Justeru, ungkapan 'al-Jamaah mungkin bukan majoriti di zaman berikutnya’ hanyalah andaian yg tidak berpijak pada realiti jika dilihat dari segi usul & pegangan majoriti ulama Islam.

10. Hadis2 & kalam salafussoleh yg menegaskan bahawa tetaplah berada di atas Islam, jemaah atau sunnah walaupun kita terpaksa berada dalam golongan minoriti amat perlu dilihat pada konteksnya. Sebenarnya, ia lebih berkait dgn soal amalan majoriti umat Islam, bukannya usul & pegangan majoriti ulama Islam. Misalnya, hadis Nabi sallallah alaih wasallam:

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء
Maksudnya: “Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ia bermula. Maka beruntunglah bagi mereka yang asing itu” [Riwayat Muslim]. Ia merujuk kepada amalan umat Islam di akhir zaman yang ramai tenggelam dalam percaturan, godaan dan kesesatan dunia. Malah, ada hadis yang menyebut mereka seperti buih2 air bah, yakni jumlah yang ramai tetapi lemah kerana sifat cinta dunia dan takut mati. Mungkin ramai umat Islam yang tidak mengikut amalan yang ditunjukkan oleh Nabi SAW dan para salafussoleh, sedangkan amalan tersebut ada diwarisi oleh majoriti ulama Islam. Justeru, hadis ini bukan bermaksud kesesatan pegangan majoriti ulama Islam, tetapi kemunduran amalan umat Islam.

11. Realiti hidup kita pada hari ini juga jelas menunjukkan ramai umat Islam dari segi amalan tidak mengikut nasihat dan tunjuk ajar ulama 100%. Ini bukan bermakna mereka tidak mengikut usul & pegangan mereka. Dalil yang jelas tentang perbezaan antara pegangan dan amalan ini ialah seperti hadis Nabi SAW:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ وَإِنِّي أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ أَوْ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا. (رواه البخاري ومسلم)

Daripada 'Uqbah bin 'Amir bahwa Nabi sallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sesungguhnya aku menunggu kamu sekalian dan aku menjadi saksi ke atas kamu sekalian. Sesungguhnya aku, demi Allah, sedang melihat ke telagaku sekarang ini (yang di pintu syurga) dan sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kunci khazanah bumi atau kunci-kunci bumi (dunia). Sesungguhnya aku, demi Allah, aku tidak khuatir kepada kamu sekalian akan mensyirikkan (Allah) selepas peninggalanku. Tetapi, yang aku khuatirkan terhadap kamu sekalian ialah kamu akan berlumba-lumba merebutnya (kekayaan dunia itu)" (HR al-Bukhari dan Muslim). Nabi SAW tidak khuatir dengan pegangan umat Islam dlm mentauhidkan Allah, ttp baginda amat khuatir terhadap amalan mereka dlm mengharungi cabaran hidup di dunia.

12. Begitu juga nukilan2 yang berikut ini, perlu difahami dlm acuan sebegitu;
i. Ibn Mas'ud RA (w. 32H) ditanya tentang majoriti yang melewatkan waktu solat dan beliau mengatakan, solatlah di rumah. Lalu, seorang bertanya:

وكيف لنا بالجماعة؟ فقال لي: يا عمرو بن ميمون إن جمهور الجماعة هي التي تفارق الجماعة، إنما الجماعة ما وافق طاعة الله، وإن كنت وحدك".
Maksudnya: Bagaimana dengan al-Jamaah? Kata Ibn Mas'ud: Wahai ‘Amru bin Maimun, sesungguhnya majoriti Jamaah itu yang telah menyalahi al-Jamaah. Sesungguhnya al-Jamaah ialah apa yang menepati ketaatan kepada Allah, walaupun engkau seorang diri”.
ii. Drp. Ibn al-Mubarak (w. 181H):

قَالَ عَلِىَّ بْنَ الْحَسَنِ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ مَنِ الْجَمَاعَةُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ. قِيلَ لَهُ قَدْ مَاتَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ. قَالَ فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ. قِيلَ لَهُ قَدْ مَاتَ فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَبُو حَمْزَةَ السُّكَّرِىُّ جَمَاعَةٌ. قَالَ الترمذي: وَأَبُو حَمْزَةَ هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مَيْمُونٍ وَكَانَ شَيْخًا صَالِحًا وَإِنَّمَا قَالَ هَذَا فِى حَيَاتِهِ عِنْدَنَا.
Kata ‘Ali bin al-Hasan: Aku bertanya ‘Abdullah bin al-Mubarak: "Siapakah al-jamaah?” Maka jawabnya: "Abu Bakr RA dan Umar RA”. Lalu ada yg membalas: "Abu Bakr dan Umar telah meninggal dunia”. Jawab beliau lagi: "Fulan dan Fulan”. Lalu ada yg membalas: "Fulan dan Fulan juga telah meninggal dunia”. Maka jawab beliau lagi: "Abu Hamzah as-Sukkari adalah al-jamaah!” At-Tirmizi mengulas: Abu Hamzah ialah Muhammad bin Maimun (w. 167H), beliau seorg syeikh yg soleh. Ibn al-Mubarak sekadar mengatakan ini di masa hayat hidupnya menurut kami”.
Kita patut maklumi, ia bukan bermakna semasa hayat Ibn Mas'ud RA atau Ibn al-Mubarak, majoriti ulama Islam (para salaf) tidak berada di atas kebenaran. Tanggapan sebegini adalah salah sama sekali kerana mrk hidup di zaman ramainya para salafussoleh. Pandangan Ibn Mas'ud RA barangkali sama ada jawapan kpd kes tertentu yg jarang berlaku atau hanya fatwa umum yg menunjukkan ketegasan bagi situasi yg belum berlaku. Manakala, pandangan Ibn al-Mubarak jelas merujuk kpd suatu pencapaian khusus.

13. Selain istilah al-Jamaah yang khusus di atas, juga terdapat istilah Ahlus Sunnah yang khusus.
i. Kata al-Hasan al-Basri (w. 110H):
السنة، والذي لا إله إلا هو، بين الغالي والجافي، فاصبروا عليها رحمكم الله؛ فإن أهل السنة كانوا أقل الناس فيما مضى، وهم أقل الناس فيما بقي؛ الذين لم يذهبوا مع أهل الإتراف في إترافهم، ولا مع أهل البدع في بدعهم، وصبروا على سنتهم حتى لقوا ربهم، فكذلك إن شاء الله فكونوا".
Maksudnya: “al-Sunnah - demi Tuhan yang tidak ada tuhan melainkan Dia - ialah antara yang melampau dan sambil lewa. Maka sabarlah ketika berada di atasnya moga Allah merahmati kamu. Sesungguhnya ahli sunnah adalah golongan yang paling sedikit pada waktu dulu dan mereka juga golongan yang paling sedikit pada hari-hari berbaki. Mereka golongan yang tidak pergi bersama golongan yang rosak dalam kerosakan mereka dan tidak juga bersama golongan bidaah bersama bidaah mereka. Dan mereka sabar di atas sunnah mereka sehingga mereka bertemu Tuhan mereka. Justeru seperti itulah jika diizinkan Allah, maka jadilah kamu (tetap di atasnya)”.

ii. Kata Fudhail bin 'Iyadh (w. 187H):
اتَّبع طرُق الهدى، ولا يضرك قِلَّة السالِكين، وإياك وطرُق الضلالة، ولا تغتر بكثرة الهالكين

Maksudnya: “Ikutilah jalan hidayah dan tidak memudaratkan kamu sedikitnya orang yang melaluinya. Hati-hati kamu (jangan ikuti) jalan-jalan kesesatan. Jangan terperdaya dengan ramainya orang yang binasa (dengannya)”.

al-Hasan al-Basri hidup di zaman ramainya salafussoleh, maka sudah tentu istilah Ahlus Sunnah itu adalah istilah tertentu yg khusus, bukannya istilah Ahlus Sunnah yg umum hingga kita fahami mereka sudah sedikit di zamannya (sedang beliau di zaman Salaf!). Ini amat bercanggah dengan fakta dan realiti sejarah. Begitu juga kata2 Fudhail bin 'Iyadh perlu difahami begitu. Apatah lagi kedua-duanya merupakan tokoh yg menjadi rujukan dalam ilmu tasawuf dan ikutan para ahli sufi. Sudah tentu istilah Ahlus Sunnah itu yamg khusus menurut jalan minoriti tertentu, sebagaimana Ahli Suffah adalah minoriti khusus dalam kalangan para sahabat RA.

14. Nukilan-nukilan ini membuktikan bahawa dari sudut amalan, majoriti tidak semestinya benar atau lebih benar. Namun, tidak menunjukkan kesesatan ilmu, usul & pegangan majoriti ulama Islam. Bagaimana boleh sesat atau tidak menepati kebenaran? Walhal keseluruhan khazanah & wacana ilmu majoriti ulama Islam dalam kerangka Ahlus Sunnah wal Jamaah telah wujud dalam ribuan, malah puluhan ribu buah kitab sejak berkurun lamanya dibaca, ditelaah, dipraktis dan diwarisi oleh mereka secara bersanad. Semoga Allah SWT memberi hidayah & mengampuni kita dengan kasih sayang & kelembutan-Nya.

Oleh Ustaz Mohd. Khafidz Soroni (Jabatan Hadith KUIS)

PANAS! SURAT ANWAR KECEWA DENGAN PENGLIBATAN MAHATHIR DALAM DEKLARASI RAKYAT

May 16, 2016

Rafizi: Surat pedas Anwar berkaitan Dr Mahathir sah

Zulaikha Zulkifli

Walaupun dinafikan seorang naib presidennya, terdapat pemimpin kanan lain PKR yang menegaskan surat Datuk Seri Anwar Ibrahim yang menyatakan kegusaran dengan langkah Tun Dr Mahathir Mohamad benar-benar wujud.

Surat lapan halaman bertulis tangan itu dikatakan menyentuh penglibatan parti tersebut dalam Deklarasi Rakyat yang diketuai oleh bekas perdana menteri Tun Dr Mahathir Mohamad.

Malaysiakini turut menerima salinan surat itu yang berjudul “Warkah dari penjara” daripada seorang pemimpin kanan PKR yang enggan namanya disebut.

Bagaimanapun, berdasarkan semakan dengan Rafizi Ramli, setiausaha agung PKR itu mengesahkan kesahihan surat itu.

Beliau bagaimanapun enggan mengulas lanjut isu itu dan berharap orang ramai membaca dan menilai sendiri kandungannya.

"Surat itu benar. Saya tak nak ulas lanjut. Biar rakyat baca dan buat penilaian," katanya kepada Malaysiakini.

Berikut merupakan kandungan penuh surat tersebut:

Saudara-saudara, presiden, timbalan dan rakan-rakan pimpinan yang dikasihi.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam sejahtera.

Permasalahan yang akan saya utarakan perlu dilacak dan diteliti dengan tenang. Intipati gagasan tidak tersasar dari dasar perjuangan dan konsisten dengan nada lakaran sebelumnya. Kekhuatiran saya adalah jika saudara-saudara sekadar mendengar dengan hormat tetapi gagal membenahinya.

Dalam sejarah perjuangan kita, terdapat episod getir yang menuntut bongkahan pemikiran dan penyuluhan. Permasalahan kini terkait dengan Deklarasi Rakyat yang turut mengheret pimpinan dan wadah kita untuk bersekongkol dengan Tun M dan Daim.

Pandangan saya mungkin bercanggah dengan pendirian majoriti pimpinan. Saya gusar kerana mengandaikan strategi tersebut agak terlanjur dan menggugat sendi nadi dan tunggak perjuangan. Kita perlu menghindari dari bahaya terjebak dengan permainan elit penguasa dan muslihat licik mereka untuk mengekalkan sistem usang. Kendati begitu, ramai rakan-rakan merasakan bahawa strategi baru tersebut ampuh dan terbaik.

Ia dikatakan berjaya memberikan lonjakan baru dengan penggemblengan semua kekuatan yang mungkin untuk menumbangkan Datuk Seri Najib selaku perdana menteri dan selanjutnya menjana perubahan. Mereka yakin untuk mengawal keadaan dan mengelak dari berlakunya sebarang penyimpangan. Pertembungan idea di kalangan kita mengusutkan memang perlu dirungkai tanpa mengundang perbalahan atau persengketaan peribadi.

Saya amalkan pendirian yang sama tatkala menyingkap inisiatif penandatangan akuan bersumpah bersama Tengku Razaleigh yang kini terkubur. Saya dan pimpinan telah memberikan persetujuan meskipun saya pohon kewaspadaan untuk kembali menegakkan dasar dan khittah perjuangan.

Kita juga tidak wajar mengungkit kebijaksanaan pimpinan menyertai dan menandatangani Deklarasi Rakyat (DR). Dalam beberapa warkah sebelumnya, saya terus menggesa pimpinan agar waspada dengan politik elit penguasa dan keperluan mempertahan dasar perjuangan. Persoalan sekarang adalah menentukan hala tuju seterusnya.

Saya lebih cenderung memilih tidak dilihat berpadu dengan kelompok DR, yakni dengan mula menetapkan jarak. Di sebaliknya kita perlu memperhebat dan memesatkan kempen menjana perubahan, menjadi pembela rakyat yang tertekan akibat kecelaruan dan salah urus ekonomi negara; selaras dengan dasar dan gagasan yang kita gendong selama ini. Kelompok DR, termasuk Tun M mungkin saja menyertai program tersebut tetapi perlu ketara agenda perubahan dan bukan DR. Izinkan saya jelaskan selanjutnya:

Saya pernah mempersoalkan dengan penuh kesangsian – ketika perbualan ringkas di mahkamah berkenaan mengapa kesungguhan kempen untuk mengangkat deklarasi yang menafikan kepentingan moral untuk reformasi terhadap demokrasi yang beramanah democratic accountability? Terima kasih kerana maklum balas segera dan nota-nota penjelasan.

Pelancaran DR adalah seolah-olah seperti telah ditetapkan tanpa boleh dirunding atau fait accompli. Hanya setelah desakan daripada pimpinan NGO pada saat-saat akhir, sebahagian daripada pandangan kita dimasukkan, hanya sekadar mencantikkan deklarasi. Secara dasarnya, ia kekal sebagai dokumen Tun M, cacat dan tidak selari dengan pandangan dari sudut reformasi.

Ia hanya menumpukan kepada pengunduran Datuk Seri Najib sebagai perdana menteri susulan skandal 1MDB. Ini adalah jelas jauh terpesong daripada raison d’etre atau asas perjuangan kita; untuk kebebasan dan keadilan, kedaulatan undang-undang, melawan salah guna kuasa dan rasuah, dan keadilan untuk semua!

Pimpinan dilihat seperti terpesona dan berpuas hati dengan jaminan bahawa segala tuntutan akan ditangani setelah pengunduran Najib. Ini mengingatkan kembali kepada komplot ‘penguasa elit’ yang saya terangkan sebelum ini. Ia adalah secara jelas menguntungkan yang kaya dan yang berkuasa manakala rakyat akan terus dipinggirkan. Kita hanya baru sahaja terlibat dengan ‘akuan bersumpah – kemelut SD'. Jaminan yang sama diberikan secara tertutup.

Dan dalam keterujaan atau keterdesakan untuk mengubah tampuk kepimpinan negara, kita berikan komitmen. Sekarang ia menjadi bahan sindiran dan memalukan, khususnya apabila Ku Li sendiri menafikan keterlibatan beliau dan menganggap rancangan tersebut sebagai tidak masuk akal. Beliau licik mempergunakan SD ini untuk meletakkan diri beliau sebagai calon kompromi apabila berlaku pertembungan atau kebuntuan antara Zahid dan Hisham. Saya bingung bagaimana ada di kalangan kita dalam Pakatan Harapan yang terus meletakkan harapan agar ‘perubahan’ boleh berlaku melalui tipu muslihat.

Dan kini, meneruskan gerakan tersebut, yang dipimpin oleh mereka daripada kelompok penguasa atau pemerintah, kita bersungguh-sungguh memberi sokongan kepada usaha baru ini, digambarkan seolah-olah sebagai strategi inklusif – rakyat. Hanya satu penjelasan yang boleh diterima iaitu tindakan terdesak. Kita terdesak untuk angka sokongan – yang sebenarnya adalah demi kepentingan dalam politik tanpa sekelumit rasa bersalah.

Kita kena berlaku jujur. Kita terlibat dalam kedua-dua inisiatif dan bersetuju agar Johari Abdul mewakili kita dalam inisiatif SD manakala Azmin Ali, Tian dan Rafizi menyertai dalam inisiatif DR. Tetapi saya sentiasa mengelak daripada menggunakan terma menyokong dan komitmen. Ia meresahkan untuk melihat pimpinan kita menjadi sebahagian daripada pasukan dengan seorang pemimpin yang zalim dan paling korup sebagai mantan menteri kewangan!

Seorang peguam kanan memaklumkan kepada saya beliau memerhatikan bagaimana pemimpin-pemimpin ini terpegun dan merendah diri dalam kehadiran bekas autokrat dalam program terbuka seolah-olah masih tersekat dengan budaya feudal. Walaupun dengan kepetahan Azmin, Ambiga dan Mat Sabu yang lantang dan meyakinkan, pengolahan agenda reformasi hanya menjadi isu sampingan.

Jangan terpedaya dengan menganggap kenyataan-kenyataan mengutuk kezaliman yang melampau ketika waktu pemerintah Tun M akan mampu mengajak beliau untuk melakukan perubahan yang sistematik. Beliau terkenal dengan kecekalan, begitu tertumpu dengan agenda beliau yang sukar digugat. Ketakutan yang sentiasa menghantui diktator dan autokrat adalah pendedahan jenayah-jenayah yang dilakukan dan berbilion-bilion wang yang dicuri.

Sifat ihsan dan berlapang dada terhadap Tun M tidak pernah dihargai. Bukan sahaja tidak menyesal, beliau menunjukkan sifat terkutuk dalam diri beliau dengan meneruskan serangan peribadi. Penghinaan ini sedihnya tidak dibela oleh rakan-rakan yang saya letakkan kepercayaan. Saya beranggapan kalian lebih mementingkan untuk mempertahankan usaha sama dan kepentingan dengan Tun M.

Malangnya, ini hanya akan meyakinkan beliau untuk tidak rasa bersalah terhadap kerosakan dan pembaziran yang berlaku ketika zaman beliau. Gayanya seperti telah beralih dari menafikan kepada menghapuskan kesalahan lampau! Azizah dan saya merasakan keperluan untuk membantah sebagai prinsip kami dan mempertahankan maruah. Kenyataan kami merujuk kepada pemerintahan autokratik, keperluan untuk wacana menyeluruh bukan seperti pendekatan diktator beliau.

Pandangan kami, deklarasi telah gagal untuk membawa kebajikan rakyat kebanyakan, terutamanya kesengsaraan ekonomi dan reformasi institusi. Kepada mereka yang taksub dengan Deklarasi, pasti tidak mengalukan kritikan sebegini. Saya minta berbeza pendapat dan mengutarakan penjelasan dalam perkara tersebut.

Seterusnya pimpinan NGO telah membuat pendirian yang tegas kepada Tun M; walaupun secara peribadi berbanding dengan Tun M yang sentiasa memberi pandangan secara terbuka. Selepas itu penjelasan dibuat bagi perkara yang tidak mempunyai apa-apa perubahan; iaitu majoriti ahli Parlimen akan menentukan calon perdana menteri yang baru.

Dalam surat saya sebelum ini kepada Biro Politik, saya menzahirkan keraguan – yang mana deklarasi dan pendekatan baru ini bertentangan dengan perubahan jitu atau reformasi. Saya menyeru pimpinan untuk tidak memandang rendah komplot mereka. Jangan terlalu yakin dengan menganggap kalian mampu mematahkan percaturan mereka. Jangan peringatan ini dipandang remeh.

‘The best lack of all conviction,
whilst the worse
Are full of passionate intensity’ [William Butlers Yeats]

‘Yang baik tidak yakin dengan kebaikan,
Manakala yang buruk
Tegar dengan tumpuan sepenuh jiwa mempertahankan keburukan [WB Yeats, penyair dari Ireland]

Berhati-hati dengan Machiavellians yang akhirnya menyerahkan kuasa kepada kroninya.

Kita mengangkat diri kita sebagai mempunyai jiwa yang besar, didorong semata-mata demi kepentingan negara. Apa yang hilang daripada benak pemikiran kita adalah keadaan sebenar yang tatakelola dalam kerajaan telah dimusnahkan dan apa yang membimbangkan adalah tiadanya rasa menyesal dan tiada kesungguhan menyokong reformasi.

Kedua-dua Tun M dan Daim merupakan dalang dan begitu agresif mempertahankan kroni kapitalisme. Melalui proses yang tempang dan korup penjana bebas elektrik IPP dianugerahkan, projek lebuh raya diswastakan, barangan keperluan dimonopoli oleh kroni-kroni. Ianya amat jelas mempergunakan dan membebankan rakyat. Kerakusan ini tidak terhenti dengan pemerintahan mereka dan kesan kerosakannya masih dirasai sehingga kini.

Saudara mungkin dapat rasakan pendirian saya yang semakin tegas setelah pendekatan berjiwa besar dan berdamai yang mana pada awalnya seperti kebanyakan di kalangan saudara, saya agak naif menjangkakan Tun M akan lebih terbuka kepada perubahan. Beberapa siri perbincangan dengan pimpinan PH dan NGO tidak berjaya merubah atau menghalang ketaksuban dan dendam peribadi terhadap Najib tetapi bukan terhadap sistem yang bobrok dan rosak.

Ia seperti tidak masuk akal selepas bekerjasama dengan PH, NGO dan rakan-rakan kepercayaan saya, beliau masih terus menghina dan menyerang saya! Perangai seperti itu menghalang dari kemungkinan untuk pertemuan dengan ahli keluarga saya. Ada sahabat menyebut dengan takzimnya untuk tidak mengharapkan seorang yang telah berusia 92 tahun untuk akhirnya berubah. Ini hanya mengukuhkan keyakinan saya bahawa kumpulan elit penguasa hanya akan berusaha menyelamatkan Umno dan memastikan kebangkitan sistem usang.

‘The serpent that did sting…
Now wears the crown.’ [Shakespeare]

‘Berhati-hati jangan dipatuk dua kali…
Ular itu kini memakai mahkota’ [Shakespeare]

Rakyat kebanyakan kekal, sebagai suara yang penuh kesedaran, harapan rakyat untuk pendirian yang berprinsip. Kita tidak boleh dianggap sebagai menghalang atau melengahkan agenda reformasi; atau tidak bersungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat.

Kita menuntut kebebasan, keadilan ekonomi, mengurangkan jurang kekayaan, melawan rasuah dan rampasan korporat. Percayalah dalam kebijaksanaan suara rakyat kebanyakan; dan berpandukan kepada aktivis, reformis dan memperkukuhkan akar umbi parti.

Izinkan saya mengulas kepada persoalan-persoalan lain. Maaf – tetapi saya tidak dapat mengelak daripada merasa terkejut dengan pandangan cetek yang melihat dengan kejatuhan Najib cukup untuk membawa perubahan ke arah demokrasi yang beramanah atau democratic accountability.

Saya telah menegaskan pendirian yang bertentangan dan tiada bukti yang boleh dikemukakan sebaliknya. Saya juga telah diminta untuk menunjukkan pendekatan jelas dan tidak mengelirukan terhadap deklarasi; dan saya berbuat demikian dengan tepat.

Tetapi saya mengutuk sikap yang tidak peka mendesak presiden, dan khususnya Nurul Izzah untuk membuat kunjungan hormat terhadap Tun M atau menyertai program beliau. Kamu mungkin nak mengambil hati beliau, tetapi menuntut pengorbanan daripada keluarga saya, terutamanya selepas cemuhan beliau baru-baru ini adalah sangat tidak berhati perut!

Dan tolong jangan melayan yang mengaku sebagai ‘sumber sahih, dipercayai’ yang mana Najib telah menghantar utusan untuk bertemu dengan saya dan telah berlaku satu pertemuan dengan Zahid di HKL minggu lepas.

Ini adalah fitnah dan disebarkan dengan niat untuk melahirkan kesangsian dan perbalahan. Kepercayaan adalah seperti semakin terhakis. Saya dengan yakin boleh mengandaikan kalaulah pertemuan itu benar-benar berlaku, kredibiliti saya masih kekal tidak terjejas. Dan sebaliknya, saya akan berterus-terang dengan rakan-rakan jika benarlah bahawa berlaku tawaran atau dakwaan terhadap mereka. Ia adalah memalukan untuk menunjukkan sikap sebegini; tetapi kita perlu membina semula kepercayaan dan mempunyai sifat kasih sayang.

Akhirul kalam – saya kini diselubungi rasa sugul. Saya tidak berhasrat membebankan saudara-saudara dengan derita kesepian mendekam di penjara. Ujian sedemikian betapa pun sukar buat saya, Azizah dan keluarga tetapi tidak serumit dan kusut menangani perkembangan parti mutakhir ini. Sejak bergulirnya Reformasi 1998, saya merasakan idealisme perjuangan mula terhakis, teruji dengan kilauan kuasa dan dana. Kekuatan saya sekadarnya, jika diakui adalah dengan meniupkan dan menyemarakkan kesedaran k earah perubahan – islah mas ta ta’ (perubahan sedaya upaya). Maka kita bergelut selama hampir dua dasawarsa menghadapi kekejaman dan keperitan hidup. Kita pecahkan tembok ketakutan; perkauman; kesempitan takrif agama kepada rahmatan lil ‘alamin.

Namun kegusaran saya adalah justeru perkembangan kini meletakkan kita di persimpangan jalan. Soal cita-cita murni, idealisme bukan lagi persoalan asasi tetapi pencak politik untuk berkuasa. Atau di sebaliknya, apakah saya dirundung malang kerana sukar menerima kenyataan? Memadai saya rumuskan keterbatasan dan kelemahan saya yang tidak upaya menggalas persefahaman baru DR.

Saya tidak berhalangan jika rapat umum dan sesi ceramah kita diteruskan dengan menekankan agenda Keadilan; menolak kerakusan kuasa dan pemerasan rakyat. Kelompok lain mungkin saja hadir menerangkan DR; tetapi jangan berganjak dari pendekatan kita. Pastinya tokoh lama tersebut yang tidak mendukung gagasan rakyat tidak wajar ditonjolkan kerana ia akan mengelirukan rakyat; mengaburkan agenda reformasi malah mengkhianati amanah islah.

Dalam wacana mengenai mauduk tersebut, itu saja batas yang saya mampu perakui. Jika majoriti memilih untuk mendukung persefahaman DR sepenuhnya; saya akur tetapi akan menyepi dan hanya mengulangi hasrat mendamba perubahan seutuhnya.

Kehampaan saya berikutnya justeru kelemahan lantas kegagalan menghimpun saf kepimpinan yang padu. Keupayaan dan peranan sebagai pengikat pimpinan dan kelompok juga kian terhakis. Maka kedengaran keluhan berunsur tuduhan bahawa saya turut memihak dan terkait dengan beberapa krisis sebelumnya. Saya cuba lakukan sebaiknya tetapi kudrat terbatas. Perseteruan sudah melampaui batas etika hingga kelihatan lebih lunak berurusan dengan musuh politik ketimbang teman seperjuangan.

Pelbagai ikhtiar, pujuk rayu dari saya tidak lagi mengesankan. Pandangan dan ulasan dari rakan-rakan sebegitu penuh dengan prasangka, dan sekilas mata dapat menyelamai kelompok yang diwakili. Persoalan nilai, akhlak, bahaya fitnah wajib dihindari. Maka keupayaan saya terbantut disini.

Saya pohon setulusnya agar warkah ini tidak diputar dan ditafsir mengikut selera kabilah. Warkah ini berupa wasiat dan amanah perjuangan untuk semua sahabat dalam saf kepimpinan. Telaah dan manfaatkanlah sebaiknya. Maaf dipohon seandainya dianggap terlanjur dan menyinggung.

Dalam kesepian dan murung, saya banyak menyemak puisi termasuk The Best Poems of the English Language: from Chancer through Proust karya Harold Bloom. Sebelumnya saya asyik dengan Pablo Neruda; Anna Akhmatova (Tsarina of Poetry); WS Rendra dan A Samad Said.

Rakan saya penyair Tawfiq Ismail pernah melakar di zaman remajanya – puisi yang saya hafal; dan pernah saya deklamasikan di Bandung sekitar 2005. Judulnya: "Memang Selalu Demikian, Hadi" (1966) di era gerakan mahasiswa menentang PKI dan Sukarno. Pohon izin menggantikan Hadi dengan "Saudaraku": "Memang selalu demikian saudaraku".

Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, saudaraku.

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, saudaraku.

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan.

Memang demikianlah halnya, saudaraku.
Kepada Allah SWT dipohon keberkatan dan restu.
Semoga perjuangan diberkati. Amin

Anwar Ibrahim

5 Perkara Menarik Tentang Jurulatih Baru Pasukan Kelantan

May 13, 2016



TENTANG JURULATIH BARU TRW

Berikut 5 perkara tentang Velizar Popov:-

1) Popov dilahirkan pada 7 Februari 1976 di Plovdiv, Bulgaria. Antara kelab yang pernah diwakilinya sepanjang karier sebagai pemain ialah Lokomotiv Plovdiv, Hebar Pazardzhik dan Spartak Plovdiv.

2) Popov dilabel sebagai jurulatih terbaik yang pernah membimbing pasukan kebangsaan Maldives. Bintang PDRM FA, Ali Ashfaq menyifatkan Popov antara jurulatih terbaik yang beliau pernah bekerjasama.

3) Sebelum itu, Popov mencipta sejarah bersama kelab Maldives, New Radiant. Pada tahun 2013, Popov membawa New Radiant muncul juara liga dengan rekod 100 peratus kemenangan tanpa seri atau kalah.

4) Popov pernah dilamar pasukan Perak sebelum ini untuk melatih Seladang pada pertengahan 2014. Bagaimanapun, keputusan tersebut dibatalkan pada saat saat akhir. Popov kemudiannya membimbing pasukan Liga Thailand, Suphanburi FC dimana beliau berjaya membawa kelab tersebut di tangga ke-6 liga selain layak ke semi final Piala FA.

5) Popov fasih bertutur dalam 6 bahasa iaitu Bahasa Inggeris, Portugis, Rusia, Bulgaria, Itali dan Latin. Beliau juga mampu mempunyai kemahiran berkomunikasi secara asas dalam Bahasa Romania, Arab dan Dhivehi (Bahasa Maldives).

6) Mempunyai lesen pro UEFA selain pernah menjalani kursus kejurulatihan dengan Persatuan Bolasepak Bulgaria dan Persatuan Bolasepak Belanda.

Jelas sekali Kelantan telah mendapat seorang jurulatih yang cukup berkualiti dan berpengalaman. Pastinya reputasi The Red Warriors akan pulih dengan kehadiran Popov selepas ini.

Senarai penuh pemenang ABPBH 29: Neelofa Bintang Paling Popular!

May 9, 2016



Senarai penuh pemenang ABPBH 29: Neelofa Bintang Paling Popular!

Astro Gempak

Senarai penuh pemenang ABPBH 29: Neelofa Bintang Paling Popular!
Neelofa merangkul trofi Bintang Paling Popular ABPBH

Pengacara rancangan MeleTop, Neelofa dinobatkan sebagai Bintang Paling Popular Anugerah Bintang Popular Berita Harian 29 (ABPBH 29) yang berlangsung malam tadi.

Majlis anugerah yang bersiaran di Pusat Konvensyen Antarabangsa Putrajaya (PICC) itu diacarakan oleh AG, Haiza, Mira Filzah dan Zizan Razak.

Berikut merupakan senarai pemenang bagi 13 kategori ABPBH 29 dan 5 kategori online ABPBH 29:

ABPBH 29 Kategori Utama

Bintang Paling Popular: Neelofa

Anugerah Pencapaian Sepanjang Zaman: Fauziah Datuk Ahmad Daud

Artis Baharu Lelaki Popular: Sufi AF2015

Artis Baharu Wanita Popular: Mira Filzah

Pelakon Filem Lelaki Popular: Sharnaaz Ahmad

Pelakon Filem Wanita Popular: Fathia Latiff

Pelakon TV Lelaki Popular: Sharnaaz Ahmad

Pelakon TV Wanita Popular: Emma Maembong

Penyanyi Lelaki Popular: Aizat

Penyanyi Wanita Popular: Adira

Artis Kolaborasi/Duo/Berkumpulan Popular: Wings

Artis Versatil Popular: Ifa Raziah

Pengacara TV Popular: Neelofa

Penyampai Radio Popular: DJ Lin

Artis Komedi Popular: Abam



ABPBH Kategori Online

Artis Aksi Selfie Popular: Saharul Ridzwan

Personaliti Media Sosial Popular: Lara Alana

Artis Ikon Respek: Datuk Aznil Haji Nawawi

Artis Trending Popular: Ayda Jebat

Artis YouTube Popular: Siti Nordiana

Berjayakah ‘game plan’ Erdoğan? - Safwan Saparudin

May 8, 2016



[Artikel] Berjayakah ‘game plan’ Erdoğan? - Safwan Saparudin

Khamis lalu, Ahmet Davutoglu telah mengumumkan untuk tidak bertanding dalam pemilihan presiden Parti Keadilan dan Pembangunan (AKP). Jelas, beliau akan berundur dari jawatan presiden AKP dan juga Perdana Menteri Turki. Tindakan ini amat mengejutkan banyak pihak serta menimbulkan tanda tanya.

Apakah benar khabar angin wujud perselisihan besar antara presiden dan perdana menteri Turki?

Mari kita telusuri perjalanan AKP beberapa dekad sebelum ini. Pada tahun 2001, AKP muncul selepas terkuburnya Parti Refah ekoran disifatkan ancaman kepada sekularisme. AKP, parti baru ditubuhkan telah menghimpunkan pakatan lebih luas dari kelompok reformis dan akhirnya menang majoriti dalam pilihanraya umum 2002, satu pencapaian diluar jangkaan sejak tahun 1980-an.

Selepas 14 tahun, Recep Tayyip Erdoğan iaitu pengasas AKP telah memimpin pendokongnya dalam 10 kejayaan berturut-turut termasuklah 3 pilihanraya kerajaan tempatan, 2 referendum perlembagaan dan pemilihan presiden.

AKP dilihat berjaya memulihkan kestabilan politik serta melaksanakan reformasi penting untuk memajukan ekonomi Turki. Selain kemajuan dalam negara, kerajaan Erdoğan dilihat berjaya mengambil peranan utama di peringkat dunia setelah menganggotai G20 dan usaha positif rundingan menganggotai Kesatuan Eropah (EU).

Sepanjang tempoh Erdoğan sebagai Perdana Menteri, permasalahan AKP dengan birokrasi telah menjadi tema utama. Pada tahun 2002, beliau diisytiharkan hilang kelayakan memegang jawatan dalam kerajaan, yang disifatkan sebagai usaha pihak tertentu menyekat kemaraan AKP.

Dalam Parlimen mengalami jalan buntu, banyak protes berlaku di seluruh negara akibat dari ancaman rejim tentera untuk menjatuhkan kerajaan. Akhirnya, Erdoğan telah memanggil pilihanraya awal agar rakyat Turki sendiri membuat keputusan. Dalam pilihanraya penuh sejarah itu, Erdoğan dan partinya telah berjaya dengan meraih 46% undian.

Beberapa bulan kemudian, kerajaan baru AKP berusaha meminda perlembagaan 1982 yang memperuntukkan kuasa kepada Presiden melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih.

Bagi mengelakkan pertembungan antara kerajaan dan cadangan penubuhan kuasa tersebut, referendum diadakan pada tahun 2007 untuk menyerahkan kuasa kepada rakyat memilih presiden mereka. Hasilnya 69% suara menyokong referendum tersebut.

Tujuh tahun kemudian, Erdoğan dipilih sebagai presiden Turki pertama dipilih oleh rakyat dan mantan menteri luar ketika itu, Ahmet Davutoğlu dilantik menggantikannya sebagai Pengerusi AKP dan juga perdana menteri Turki.

Ironinya, kewujudan sistem presiden yang dilantik terus telah menyebabkan masalah yang dikenali sebagai legitimasi berganda (dual legitimacy) kerana ada dua pemimpin sebagai jurucakap mewakili rakyat Turki.

Keputusan mengejutkan Ahmet Davutoğlu untuk berundur sebagai perdana menteri dan pengerusi AKP, menimbulkan tanda tanya mengapa dua pemimpin yang berkongsi ideologi dan latarbelakang yang sama tidak boleh bekerjasama.

Ramai yang membuat spekulasi antara berlaku perselisihan antara Erdoğan dan Ahmet Davutoğlu dan ia bermula sejak 2015. Ada juga mendakwa Erdoğan mempengerusikan mesyuarat kabinet serta masalah birokrasi dan pemilihan peringkat-peringkat parti yang membawa kepada peletakan jawatan Ahmet Davutoğlu.

Untuk menjelaskan isu ini, masalahnya adalah pada institusi bukannya individu. Dalam ‘game’ ini, adalah mustahil Erdoğan dan Davutoğlu untuk bekerjasama.

Keputusan Ahmet Davutoğlu telah mengisyaratkan sistem politik Turki sedang mengalami krisis struktur yang belum pernah berlaku dalam sejarah. Setakat ini, belum jelas bagaimana kedua-dua jawatan tertinggi ini berfungsi dengan baik menjalankan kuasa eksekutif.

Sejak terpilihnya Erdoğan pada 2014 secara langsung oleh rakyat (sebelum itu semua presiden dengan lantikan Parlimen), wujud tiga peta jalan (road map) bagi Turki:

Pertama, presiden hanyalah berfungsi sebagai simbol ketuanan Turki, berperanan memenuhi undangan majlis rasmi semata-mata. Segala urusan eksekutif diserahkan kepada perdana menteri dan kabinetnya. Masalahnya, dengan pemilihan lima tahun sekali jawatan presiden, adakah seorang pemimpin popular yang dipilih rakyat memilih sebagai boneka institusi sahaja. Melihat kepada karakter Erdoğan, beliau dilihat berhasrat memainkan peranan secara aktif dalam pentadbiran negara.

Pilihan kedua, yang mana telah digunapakai dalam sistem politik Turki, presiden yang aktif dan secara relatifnya perdana menteri turut berpengaruh dalam urusan pentadbiran negara. Namun, selepas 20 bulan model ini dilihat kurang berfungsi dengan baik dan efisyen.

Ketiganya, pilihan terakhir adalah kuasa presiden yang kuat serta kuasa perdana menteri yang relatif berkurangan dengan dibantu oleh menteri cabinet. Dalam bahasa mudah, mengamalkan sistem semi-presiden secara de facto.

Selain dari dipilih rakyat sebagai presiden Turki pada dua tahun lalu, Erdoğan dilihat kekal sebagai pemimpin yang tidak boleh dipertikaikan dalam AKP.

Sebagai politikus yang berpengaruh dikalangan majoriti rakyatnya, tidak dapat dinafikan beliau merupakan pemimpin yang mewakili suara seluruh rakyat Turki.

Persoalan timbul, apakah ‘game plan’ Erdoğan selepas ini?

Erdoğan mempunyai dua pilihan di persimpangan ini. Usaha memusatkan kuasa eksekutif kepada presiden boleh jadi bergantung kepada hasil perebutan kuasa dalam parti MHP, maka presiden boleh cuba mengusahakan peralihan sistem presiden secara formal. Jika ini tidak berlaku, Erdoğan terpaksa memilih sistem semi-presiden.

Beberapa hari ini, pemimpin Turki mengambil langkah-langkah awal bagi mengelakkan krisis pada masa hadapan.

Melangkah ke hadapan, kepimpinan AKP terpaksa mengambil langkah perlu untuk menghindari keralatan sistem (system errors). Dalam mesyuarat 22 Mei ini, AKP perlu mengambil langkah pensejajaran dengan memilih pengerusi AKP yang baru serta berkebolehan untuk bekerjasama dengan presiden bagi meneruskan reformasi sistem presiden tersebut.

Di bawah pengurusan baru, AKP perlu mengambil langkah-langkah meyakinkan pelabur-pelabur dan mengukuhkan kestabilan ekonomi. Sementelahan itu, Erdoğan kekal sebagai pemimpin atau pengerusi de facto AKP.

Keputusan Ahmet Davutoğlu berundur menandakan bermulanya proses reformasi pentadbiran dengan menjadikan presiden sebagai ketua eksekutif (CEO) Turki dengan dibantu oleh memanda perdana menteri dan para menteri kabinetnya. Dalam erti kata lain, keputusan Ahmet Davutoğlu bermakna Turki hampir melaksanakan sistem presiden.

Jelas, perkembangan sistem politik Turki ini cukup unik serta membingungkan semua. Dalam keadaan negara Turki diancam dengan pelbagai kerumitan dan ancaman dalaman serta luaran, pensejajaran dalam transisi kepimpinan adalah amat penting. Sama-sama kita mendoakan yang terbaik buat Turki.

Sumber: Daily Sabah
Ikuti perkembangan Turki dalam Channel Telegram 'Turki Kini'.

RUMUSAN PILIHANRAYA NEGERI SARAWAK 2016



RUMUSAN PILIHANRAYA NEGERI SARAWAK 2016.

1. BN seperti dijangka menang besar dalam Pilihanraya Umum Negeri kali ini. Setakat ini, BN memenangi 72 kerusi manakala 7 dimenangi DAP dan 3 PKR.

2. Prestasi paling merosot sekali ialah DAP yang hanya mampu menang 7 daripada daripada 12 yang dimenangi pada Pilihanraya Negeri 2011. BN berjaya merampas semula 5 kerusi tersebut dengan majoriti lebih 1000++ seperti di Piasau, Dudong, Meradong dan Batu Kawah.

3. PKR merupakan parti yang konsisten dalam PRN kali ini. PRN 2011 mereka menang 3 dan kali ini juga mereka menang 3 di kerusi yang sama.

3. Pertembungan PKR dan DAP di beberapa kawasan juga menyaksikan kedua-dua parti tersebut 'tekorban'. Jumlah undi PKR dan DAP juga masih belum mampu menandingi jumlah undi BN di sesetengah kawasan seperti di Batu Kitang, Simanggang, Murum, Ngemah dan Mambong. Tidak dinafikan protes pengundi mendorong keputusan tersebut berlaku.

4. PAS dan AMANAH seperti dijangka gagal memenangi sebarang kerusi pada PRN kali ini. Tambah perit, PAS hilang deposit di 7 daripada 11 DUN manakala AMANAH hilang deposit di 9 daripada 13 DUN.

5. Jika dibanding antara prestasi kedua-dua parti tersebut, nyata prestasi AMANAH jauh lebih buruk berbanding PAS. Sebagai parti yang baru dan tidak sampai 1 tahun penubuhan, bertanding di Sarawak merupakan perjudian yang paling besar dan berisiko.

6. Secara umumnya, imej Adnan Satem berjaya melemahkan pengaruh pembangkang khususnya di kawasan-kawasan majoriti Cina. DAP merupakan parti yang paling terkesan dengan situasi tersebut terutamanya kehilangan 5 kerusi.

7. Adakah masyarakat Cina sudah kembali kepada BN dan bakal menyumbang kepada BN dalam PRU ke-14? Bagi saya masih terlalu awal untuk membuat andaian sebegitu. Penerimaan masyarakat Cina di Sarawak adalah kepada Adnan Satem namun di semenanjung masyarakat Cina masih lagi berpihak kepada parti oposisi.

8. Adakah PRN ini menunjukkan imej BN dan Najib masih kukuh? Saya fikir tidak. Isu dan suasana di Sarawak amat berlainan dengan negeri-negeri lain. BN dan Najib masih menghadapi krisis persepsi dalam kalangan masyarakat di Semenanjung. Isu-isu nasional amat memberi kesan kepada BN di Semenanjung tetapi isu nasional tidak begitu signifikan di Sarawak.

Sebuah helikopter dipercayai membawa VIP dilapor hilang dari radar di Sarawak petang tadi

May 5, 2016




Sebuah helikopter dipercayai membawa VIP dilapor hilang dari radar di Sarawak petang tadi.

Ketika kejadian helikopter berkenaan dilapor dalam penerbangan dari Betong ke Kuching.

Helikopter berkenaan dikatakan hilang dari radar kira-kira jam 5.00 petang berhampiran kawasan Sebuyau.

Ketua Pengarah Jabatan Penerbangan Awam, Datuk Azharudin Abdul Rahman ketika dihubungi mengesahkan telah menerima laporan berkenaan.-TV3
Fyi

1. YB Dato' Noriah Kasnon, Timbalan Menteri MPIC
2. Tuan Asmuni bin Abdullah( suami TM)
3. Datuk Dr. Sundaran Annamalai , KSU MPIC,
4. Dato' Wan Mohammad Khair-il Anuar Wan Ahmad, Pengerusi MPOB/ AP Kuala Kangsar,
5. Ahmad Sobri bin Harun ( pengawal peribadi)

Full list yg hilang dalam heli berlepas jam 5pm

Belum ada pgumuman rasmi

Take off from SMk spoah, about 5pm until now still cannot located. No communication. SAR late being activated.

Semasa

Hiburan

Sukan

 

© Copyright Kerabu Bersuara 2007 -2013 | Design by Kerabu Bersuara | Published by Kerabu Bersuara Group | Powered by Blogger.com.